This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 05 April 2012

Tak Perlu "Galau" Hadapi Uji Materi UU APBN-P 2012

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbagai pihak tak perlu bereaksi berlebihan
atas langkah beberapa orang yang melakukan uji materi dan formal
Rancangan Undang-Undang APBN-P 2012 yang telah disahkan Dewan
Perwakilan Rakyat. Biarkan Mahkamah Konstitusi yang menafsirkan.

"Kita yakin MK akan arif menanggapi hal ini. Tak perlu galau-lah atas
persoalan itu. Bila ada something wrong di sana, ya nanti biar
dibatalkan oleh MK," kata Ketua DPP Bidang Advokasi Hukum dan HAM PKS
Aboe Bakar Al Habsy di Jakarta, Rabu (4/4/2012).

Aboe Bakar mengingatkan putusan MK yang membatalkan Pasal 28 ayat (2)
UU Migas yang mengatur harga jual eceran BBM. Selain itu, lanjut dia,
Ketua MK saat itu Jimly Asshiddiqie juga pernah mengirimkan surat
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempertanyakan dasar hukum
Perpres Nomor 55 Tahun 2005 tentang Harga Jual Eceran BBM Dalam
Negeri.

Perpres itu, kata Aboe Bakar, menetapkan harga BBM mengikuti mekanisme
pasar. "Perpres ini dianggap tidak mempertimbangkan putusan MK. Kita
sangat yakin MK masih seperti yang dulu," kata anggota Komisi III itu.

Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar menilai aneh langkah pakar hukum tata
negara Yusril Izha Mahendra yang sudah mengajukan gugatan uji materi
dan formal RUU APBN-P 2012 ke MK. Pasalnya, kata dia, RUU APBN-P itu
belum diserahkan oleh DPR ke Presiden untuk diundangkan.

"Dalam konteks ini, materi yang belum jelas dipaksa diajukan ke MK
hanya untuk kepentingan panggung politik. Jika keadaan pengajuan
seperti itu diteruskan, maka pengajuan RUU APBN-P 2012 itu ke MK bukan
murni masalah hukum lagi, melainkan sudah tercampur oleh kepentingan
politik yang sangat kental," ujar Marwan.

Seperti diberitakan, hal krusial yang dipermasalahkan dalam RUU APBN
2012 itu yakni Pasal 7 ayat 6a. Substansi ayat itu memungkinkan
pemerintah menyesuaikan harga BBM bersubsidi jika ada kenaikan atau
penurunan lebih dari 15 persen dari harga minyak mentah Indonesia
(ICP) rata-rata selama enam bulan. Ayat itu ditafsirkan banyak pihak
menyerahkan harga BBM bersubsidi pada mekanisme pasar.

PKS KOALISI DENGAN SBY

Skalanews - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar
Al-Habsy mengingatkan akad koalisi PKS adalah dengan SBY bukan dengan
Sekretariat Gabungan (Setgab), bukan PKS pula yang meminta namun PKS
dilamar oleh SBY.

"Nah, misalkan saja kalau anak anda dilamar seseorang kemudian
dilanjutkan akad nikah, beberapa waktu kemudian pembantu mantu anda
ini ngomong mau mentalak anak anda, apakah anda akan menanggapinya?
Kira-kira posisinya begitulah," ungkap Aboe Bakar kepada wartawan di
Jakarta, Rabu (4/4).

Dalam kasus itu, dia pun menerangkan ada dua kemungkinan, pertama
mungkin pembantu itu sedang cari muka atau cari perhatian, kedua
mungkin juga mantu anda ini tipe orang yang terima bersih, tak mau
kotor tangannya atau tak bertanggung jawab.

"Masak pas ngelamar berani ngomong langsung giliran mau talak
diwakilkan ke pembantu, ini kan gak tepat," tuturnya.

Aboe Bakar pun menerangkan ketimbang berspekulasi akan lebih baik jika
kita tunggu saja mantu anda sendiri yang berbicara. [Andrian
Gilang/Pay]

PKS Tunggu Sikap ‘Gentleman’ SBY

Aboe Bakar Alhabsy, Ketua DPP PKS

Agar jelas, dikeluarkan atau tidak dari koalisi
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak merasa dikeluarkan dari koalisi.

PKS menegaskan kontrak koalisi ditandatangani antara partai dan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bukan dengan Sekretariat
Gabungan (Setgab) yang muncul belakangan.

"Perlu diingat bahwa akad koalisi PKS adalah dengan SBY bukan dengan
Setgab," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS Aboe Bakar Alhabsy,
di Jakarta, Rabu (4/4).

Perjanjian antara PKS dan SBY diibaratkan seperti proses pernikahan.
SBY melamar PKS untuk bergabung. Ketika sudah atap, SBY dan PKS
memiliki pembantu yakni Setgab.

"Misalkan saja kalau anak anda dilamar seseorang kemudian dilanjutkan
akad nikah, beberapa waktu kemudian pembantu dari menantu (SBY) anda
ini ngomong mau mentalak anak anda, apakah anda akan menanggapinya,
kira-kira posisinya begitulah," sindirnya.

Karena itu, PKS menunggu pernyataan langsung SBY terkait nasib PKS di
koalisi, diceraikan atau tidak. PKS ingin SBY gentleman. PKS tidak
terlalu memikirkan pernyataan Sekretaris Setgab Syarif Hasan yang
mengatakan saat ini anggota koalisi berjumlah lima partai politik.
Lima partai tersebut adalah Golongan Karya, Partai Demokrat, Partai
Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat
Nasional. PKS tidak masuk koalisi.

"Masak pas ngelamar berani ngomong langsung, giliran mau talak
diwakilkan ke pembantu, ini enggak tepat. Ya, ketimbang berspekulasi
bukankah lebih baik kita tunggu saja mantu (SBY) anda sendiri yang
ngomong," ujarnya.

Sementara itu, dalam rapat Sekretariat Gabungan (Setgab) yang
dilakukan Selasa (3/4) malam di Cikeas tidak diikuti oleh PKS. Sebab
anggota Setgab yang diundang adalah anggota Setgab yang memilih opsi
mendukung pemerintah dalam kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Mahfudz Siddiq menyatakan, tidak diundangnya PKS pada rapat Setgab
Selasa malam bukan persoalan yang besar. Bahkan jika hasik rapat
Setgab malam ini memutuskan untuk mendepak PKS dari koalisi makan PKS
akan siap menerima keputusan tersebut.

"Jika rapat Setgab malam ini sepakat putuskan PKS tidak lagi bagian
dari koalisi, maka PKS dengan legowo menerima hal itu. Ketika PKS
memutuskan menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM per 1 April
yang diyakini akan sangat membebani masyarakat, PKS sadar betul resiko
politik yang akan dihadapi," ujar Mahfudz dalam pesan singkatnya,
Selasa (3/4) malam.

Menurutnya, apabila keputusan tentang didepaknya PKS dari koalisi itu
sudah ada dan diputuskan, maka sikap PKS saat ini hanya tinggal
menunggu keputusan itu untuk disosialisasikan kepada pimpinan PKS.
Namun perlu diingat, PKS bekerja bukan hanya di dalam koalisi saja,
tetapi di luar koalisi pun PKS siap menyuarakan aspirasi dari rakyat.

"Kami akan menunggu Presiden SBY untuk menyampaikan keputusan itu
kepada Pimpinan PKS. Dalam posisi apapun PKS akan terus bekerja untuk
kepentingan masyarakat luas, termasuk membantu pemerintah untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak yg sdg dihimpit berbagai
persoalan," tandasnya.

PKS memang tak diundang Ketua Sekretariat Gabungan (Setgab) Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY), dalam rapat yang dilakukan Selasa (3/4) malam
ini di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. "Pertemuan ini hanya
menyertakan pimpinan partai pendukung opsi 2 (APBNP)," ujar Staf
Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa melalui
pesan singkat, Selasa (3/4).ins

Jurnaline.com – Partai-partai pendukung mendepak Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) dari sekretariat gabungan (SETGAB) partai koalisi.
Namun, anehnya hal ini baru di dengar oleh salah satu politikus PKS,
Aboe Bakar Alhabsy.

Aboe tak risau dengan keputusan itu. Sebab PKS bukan bermitra dengan
Setgab melainkan langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY).

"Perlu diingat bahwa akad koalisi PKS adalah dengan SBY bukan dengan
setgab. Bukan kami pula yang meminta namun PKS dilamar oleh SBY.
Setgab kan muncul belakangan hari setelah ada persoalan di internal
koalisi," ungkap Aboe Bakar Alhabsy melalui BlackBerry Messenger
kepada wartawan di DPR, Rabu (4/4).

Menurut anggota Komisi III DPR ini, peryataan yang dikeluarkan oleh
Syarifudin Hasan selaku anggota Dewan Kehormatan Partai Demokrat yang
juga Sekretaris Setgab, ada dua kemungkinan.

Sebagai Ketua Kapoksi Bidang Hukum di Fraksi PKS, dirinya tidak ingin
berspekulasi dan meminta SBY yang dianalogikannya sebagai mantu untuk
mengeluarkan pernyataan sendiri terkait dikeluarkannya PKS dari
koalisi. [rosad]

PKS tak terima dipecat oleh 'pembantu' SBY

Sekretariat Gabungan (Setgab) Partai Koalisi menendang PKS dari
koalisi. Namun keputusan yang disampaikan Sekretaris Setgab, Syarief
Hasan, tidak diterima PKS. PKS masih menunggu pernyataan langsung dari
Presiden SBY.

Ketua DPP PKS, Aboe Bakar Al-Ahbsyi mengatakan, sejak awal PKS tidak
pernah menjual diri untuk bergabung dengan pemerintah, tetapi SBY
sendiri yang meminta partai dakwah itu bergabung. Secara etika
politik, menurut Aboe Bakar, seharusnya SBY memanggil PKS.

"Masa pas ngelamar berani ngomong langsung, giliran mau talak
diwakilkan ke pembantu, ini kan enggak tepat. Ya, ketimbang
berspekulasi bukankah lebih baik kita tunggu saja," ujar Aboe Bakar
kepada wartawan di Gedung DPR, Rabu (4/4).

Aboe, sapaan akrabnya, mengatakan akad koalisi PKS bukanlah dengan
Setgab, melainkan dengan SBY. Setgab, kata Aboe, baru muncul
belakangan setelah ada persoalan di internal koalisi. Untuk itu PKS
menilai keputusan Setgab tidak lah resmi.

"Kalau anak Anda dilamar seseorang kemudian dilanjutkan akad nikah,
beberapa waktu kemudian pembantu mantu ini ngomong mau mentalak anak
Anda, apakah anda akan menanggapinya. Kira-kira posisinya begitu lah,"
jelasnya.

Menurut Aboe, keputusan yang diambil di Cikeas kemarin malam hanya
mencari muka. "Pertama Setgab sedang cari muka. Kedua Setgab atau
mantu ini tipe orang yang terima bersih. Tidak mau kotor tangannya
atau tak bertanggung jawab," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, partai politik yang tergabung dalam
Sekretariat Gabungan (Setgab) menyatakan PKS sudah tidak berada di
koalisi lagi. "Sekarang ini ada lima sekarang. Yang bersama-sama
dengan pemerintah hanya ada lima," ujar Anggota Dewan Pembina Partai
Demokrat Syarief Hasan di Puri Cikeas, Selasa (3/4) malam.

Kepastian dikeluarkannya PKS dari koalisi setelah anggota Setgab minus
PKS melakukan rapat di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono semalam.
Hasil rapat itu memutuskan menendang PKS dari koalisi.

PKS ditendang karena sikapnya menolak kenaikan bahan bakar minyak
(BBM) dalam rapat paripurna DPR akhir bulan lalu. PKS lebih memilih
opsi pertama yaitu Pasal 7 Ayat 6. Pasal itu isinya pemerintah tidak
boleh menaikkan harga BBM bersubsidi.

Sikap PKS itulah yang membuat Partai Demokrat gerah. Partai penyokong
SBY di pemerintahan itu akhirnya menendang PKS dari koalisi.[did]

PKS Ingin Penjelasan SBY

JAKARTA (Berita): Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera, Aboe Bakar
Al-Habsy, belum percaya keterangan yang disampaikan Sekretaris
Sekretariat Gabungan Partai Koalisi, Syarif Hasan terkait berakhirnya
kontrak PKS sebagai parpal koalisi pendukung pemerintah.

"Perlu diketahui bahwa akad koalisi PKS adalah dengan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bukan dengan Setgab, karena PKS dilamar oleh SBY.
Keputusan kontrak koalisi kami ingin mendengar langsung dari Presiden
SBY," kata Aboe Bakar, di Gedung DPR, Senayan, Rabu (4/3).

Aboe Bakar menjelaskan, munculnya Setgab setelah ada persoalan
diinternal koalisi. Diibaratkan, jika seorang anak dilamar seseorang
kemudian dilanjutkan akad nikah, kemudian pembantu mantu bilang mau
menalak anak tersebut.

"Nah, masalah ini apakah anda akan menanggapinya, kira-kira
begitulah," terangnya.

Menurutnya, persoalan ini ada dua faktor kemungkinan. Pertama,
mungkin pembantu itu sedang cari muka atau cari perhatian. Kemungkinan
lainnya, seorang mantu yang tak mau bertanggungjawab. Saat melamar
berani bicara, namun saat menalak malah diwakilkan ke pembantu.

"Artinya, waktu melamar berani ngomong langsung, giliran mau talak
diwakilkan ke pembantu, ini kan nggak tepat. Daripada berspekulasi,
sebaiknya kita tunggu saja Pak SBY yang ngomong," ujar anggota Komisi
Hukum DPR ini. (iws)

Politikus PKS Ibaratkan Syarif Hasan Pembantu yang Cari Muka

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernyataan Sekretaris Sekretariat Gabungan
Partai Koalisi Syarif Hasan bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
didepak dari koalisi pendukung pemerintah membuat geram politikus PKS
Aboe Bakar Al-Habsy. Aboe mengibaratkan Syarif sebagai pembantu yang
mencari muka.

Anggota Komisi III DPR itu mengaku belum mendengar keputusan Setgab.
Ia mengingatkan bahwa akad koalisi PKS dengan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bukan dengan Setgab. PKS tidak meminta, tapi dilamar SBY.
Setgab muncul belakangan hari setelah ada persoalan di internal
koalisi.

"Nah, misalkan saja kalau anak Anda dilamar seseorang kemudian
dilanjutkan akad nikah, beberapa waktu kemudian pembantu Anda ini
ngomong mau mentalak anak Anda, apakah Anda akan menanggapinya.
Kira-kira posisinya begitulah," kata Aboe kepada wartawan, Rabu (4/4).

Menurut Aboe, sikap Syarif bisa karena cari muka atau cari perhatian.
Atau mungkin juga Presiden SBY yang merupakan menantu PKS tipe orang
yang terima bersih, tak mau kotor tangannya atau tak bertanggung
jawab.

"Masak waktu ngelamar berani ngomong langsung, giliran mau talak
diwakilkan ke pembantu. Ini kan gak tepat. Ketimbang berspekulasi,
bukankah lebih baik kita tunggu saja mantu Anda sendiri yang ngomong,"
kata Aboe.

Setgab Partai Koalisi semalam menggelar rapat di Puri Cikeas, Bogor,
Jawa Barat. Salah satu agendanya membahas sikap PKS yang kerap
bertentangan dengan keputusan koalisi pendukung pemerintah. Dalam
paripurna BBM, Jumat (30/3) lalu, misalnya, PKS memutuskan menolak
kenaikan harga BBM. Sebaliknya, koalisi memberi peluang pemerintah
menaikan harga BBM. (Andhini)